Mototompiaan Mototabian bo Mototanoban

We are currently working on an awesome new site, won't be long!

  • 00

    days

  • 00

    hours

  • 00

    minutes

  • 00

    seconds

Sign up here to be one of the first to know when it's ready.

5 Camilan yang Bisa Disantap Setiap Saat Tapi Tidak Bikin Gemuk

img

Hampir semua wanita suka mengonsumsi camilan baik saat sedang menonton film, kerja, atau ketika lapar malam hari. Namun sebagian dari mereka memilih camilan yang kurang sehat seperti makanan berminyak atau kripik kemasan. Tanpa terasa camilan tersebut membuat berat badannya kian bertambah terutama saat disantap sebelum tidur. Oleh karena itu, Anda harus pintar memilih jenis makanan ringan yang akan dikonsumsi. Berikut lima camilan yang bisa dimakan setiap saat tanpa takut menggemuk.

1. Salad Sayur
Sayur mengandung banyak vitamin, mineral, dan protein yang menyehatkan. Sayuran juga mempunyai kandungan air yang tinggi sehingga tetap membuat Anda terhidrasi seharian. Oleh karena itu, salad sayur bisa menjadi camilan Anda ketika bosan bahkan sesaat sebelum tidur karena kandungannya tidak membuat lemak bertumpuk di dalam tubuh Anda.

2. Buah Ceri
Buah ceri kaya akan melatonin yang sangat baik untuk membantu mengurangi insomnia. Maka dari itu, jika Anda lapar, buah ceri bisa menjadi alternatif camilan setiap saat. Hindari mengonsumsi dalam jumlah yang banyak karena bisa menyebabkan gula darah meningkat.

3. Susu Rendah Lemak
Susu rendak lemak mengandung vitamin D serta kalsium yang bagus untuk kesehatan tulang Anda. Susu rendak lemak juga mengandung triptophan yang membantu tidur lebih nyenyak maka cocok dikonsumsi malam hari. Pada dasarnya, triptophan berfungsi meningkatkan serotonin dalam tubuh serta membuat Anda mengantuk.

4. Jeruk
Jeruk mengandung banyak vitamin yang bagus untuk tubuh. "Jeruklah yang bagus tapi jangan lebih dari satu buah, karena makan banyak buah sama saja menyuplai karbohidrat," ujar ahli gizi Prof. Dr. Hardinsyah, MS, kepada Wolipop.

5. Tuna Kalengan
Sekaleng tuna yang kaya protein hanya mengandung 90 kalori. Tuna bisa dimakan sebagai camilan bersama roti gandum dengan topping mustard. Tapi perlu diperhatikan, beli tuna kalengan yang tidak mengandung bahan tambahan seperti garam atau bumbu penyedap. Perhatikan selalu daftar bahan dan informasi nilai gizi pada kemasan.

"Kalau orang ini sudah gemuk atau hiperkolesterol jangan daging, lari ke ikan," saran pria lulusan imbuh lulusan Innutrition, University of Queensland, Australia itu. Namun harus diperhatikan jika Anda memiliki asam urat atau penyakit lainnya.

Bekal nan Kekal

Ilustrasi
Oleh: Ina S Febriany
Lika liku hidup duniawi selalu diwarnai dengan segala hasrat, tak terkecuali keinginan besar dalam mengumpulkan materi. Sebagian dari kita mungkin menilai bahwa ukuran nilai kebahagiaan hanya timbul dari melimpah-ruahnya materi yang kita miliki. 

Sebagian lain menilai bahwa kebahagiaan hakiki sejatinya ada di dalam hati, yakni ‘ketenangan’ dalam berbagi. Rasa saling berbagi inilah yang ditanamkan oleh Rasulullah pada para sahabatnya sehingga mereka diberi kelapangan hati untuk ikhlas berbagi.

Allah SWT berfirman, “Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan, sungguh, Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran: 92)

Dalam firman-Nya yang lain, “Apa saja harta yang baik yang kalian infakkan, niscaya kalian akan diberi pahalanya dengan cukup dan kalian sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS al-Baqarah: 272)

Dua surah di atas mengisyaratkan sebuah anjuran untuk berbagi apa saja yang kita miliki, bahkan sesuatu yang kita cintai sekalipun. Memberikan sesuatu yang teramat kita sukai memang bukanlah perkara yang mudah. Namun, ada pahala yang besar dari-Nya sebagai bukti keimanan seorang hamba pada-Nya.

Adalah kisah Umar bin Khattab RA, seperti hadis yang diriwayatkan oleh putranya, Ibnu Umar. “Sesungguhnya Umar RA pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Lalu beliau mendatangi Nabi SAW dan meminta nasihat mengenai tanah itu, seraya berkata, “Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, yang saya tidak pernah mendapatkan harta lebih baik daripada tanah itu.” 

Nabi SAW pun bersabda, “Jika Engkau berkenan, tahanlah batang pohonnya, dan bersedekahlah dengan buahnya.” 

Ibnu Umar berkata, ‘Maka bersedekahlah Umar dengan buahnya dan batang pohon itu tidak dijual, dihadiahkan, diwariskan, dan Umar bersedekah dengannya kepada orang-orang fakir, para kerabat, para budak, orang-orang yang berjuang di jalan Allah, Ibnu Sabil, dan para tamu. Pengurusnya boleh memakan dari hasilnya dengan cara yang makruf dan memberikannya kepada temannya tanpa meminta harganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas, seperti uraian yang ditulis oleh Ibnu Hajar Atsqalani, bahwa Umar bin Khattablah sahabat pertama kali yang mempraktikkan shadaqah jariyah, atau lebih kita kenal dengan wakaf. 

Ketika menjelaskan hadis di atas, Imam Ibnu Hajar menuturkan sebuah riwayat dari Imam Ahmad bahwasannya Ibnu Umar berkata, “Wakaf pertama kali di dalam Islam adalah sedekahnya (wakafnya) Umar.”

Secara tersirat, Umar terasa berat mengikhlaskan sesuatu yang ia katakan bahwa ‘tidak pernah aku dapatkan harta yang lebih baik kecuali tanah itu’, menyadarkan kita betapa pengorbanan seorang hamba dalam meraih keimanan dan kebajikan yang sempurna, menepis rasa ego dalam hati untuk ikhlas berbagi.
Inilah esensi dari roda perekonomian Islam; tidak membiarkan harta si kaya hanya beredar di orang kaya saja, tapi anjuran penuh untuk bersedia peduli dan mau berbagi.

Melalui zakat (yang sifatnya wajib dikeluarkan), kemudian wakaf yang sifatnya sunnah tapi pahala yang terus mengalir selama harta tersebut digunakan untuk kebaikan, menyadarkan bahwa ajaran Islam sungguh menentramkan. Keduanya, zakat maupun wakaf adalah warisan dan unsur-unsur pembangun peradaban yang siapapun mempraktikkannya akan mendapat ganjaran. 

Islam tidak memperkenankan adanya seorang hamba yang hidup serba mewah berkecukupan, namun tidak peduli dengan saudara-saudara yang kekurangan. Dalam prinsip bekal nan kekal inilah, Islam menghendaki adanya tingkat kesejaheraan sosial baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan negara. Semoga! Wallahu a’lam.

Menggapai Ridha Allah

Pameran Kaligrafi
Oleh: Muhbib Abdul Wahab
Ketika belajar di TK dan madrasah dahulu, kita pernah diajari oleh guru kita sebuah bacaan “Radhiitu billahi rabba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin nabiyya wa rasula.” Artinya:   “Aku rela (senang) Allah sebagai Rabb (Tuhanku), Islam agamaku dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Utusan-Nya.” 

Selain itu, kita juga sering berdoa: “Allhumma inni as’aluka ridhaka wal jannah, wa a’udzu bika min sakhathika wan nar.” Artinya: Ya Allah aku (kami) memohon kepada-Mu akan ridha-Mu dan surga; dan aku (kami) berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka.

Dalam konteks ini kita patut bertanya kepada diri sendiri: “ Apakah selama ini kita sudah ridha terhadap Allah, Islam dan Nabi Muhammad SAW? Dan mengapa kita perlu memohon ridha Allah?”

Ridha merupakan bentuk mashdar (infinitive), dari radhiya-yardha yang berarti: rela, menerima dengan senang hati, cinta, merasa cukup (qana’ah), berhati lapang. 

Bentuk lain dari ridha adalah mardhat dan ridhwan (yang super ridha). Antonim kata ridha adalah shukht atau sakhat, yang berarti murka, benci, marah, tidak senang, dan tidak menerima.  

Ridha adalah engkau berbuat sesuatu yang membuat Allah senang atau ridha, dan Allah meridhai apa yang engkau perbuat. Ridha hamba kepada Allah berarti ia menerima dan tidak membenci apa yang menjadi ketetapan Allah. 

Sedangkan ridha Allah kepada hamba berarti Dia melihat dan menyukai hamba-Nya yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ada dua dimensi ridha, yaitu ridha billah dan ridha ‘anillah. Ridha billahatau rela dan cinta kepada Allah berarti bersedia mengimani dan menjadikan-Nya sebagai Dzat yang wajib diibadahi, tidak menyekutukan-Nya, dimintai pertolongan, dan ditaati syariat-Nya. 

Sedangkan ridha ‘anillah berarti hamba menerima ketentuan, takdir, rizki, dan segala sesuatu yang ditetapkan oleh-Nya.
Ridha dalam konteks ini tidak berarti hamba menyerah-pasrah tanpa usaha, berdoa dan bertawakkal. Sebaliknya, hamba diharuskan memahami hukum sebab-akibat, berusaha maksimal dan berdoa. 

Ridha kepada Allah mengharuskan hamba untuk selalu beriman kepada-Nya, termasuk percaya kepada qadha dan qadar-Nya; mencintai dan menaati syariat-Nya; mencintai Rasul-Nya dan mengikuti keteladananya; menjadikan Islam sebagai agama pilihan hidupnya; dan mengorientasikan hidupnya dengan penuh keikhlasan untuk meraih cinta dan ridha-Nya. 

Oleh karena itu, ada tiga kategori ridha yang harus ditapaki hamba. Pertama, ridha bi syar’illah (syariat Allah) berarti menerima dan menjalankan syariat-Nya dengan ikhlas dan penuh dedikasi. 

Kedua, ridha bi qadha’illah (ketentuan Allah) berati tidak menolak dan membenci apa yang telah ditetapkan Allah, termasuk segala sesuatu yang tidak menyenangkan (musibah), karena ujian dari Allah merupakan tangga peningkatan derajat iman. 

Ketiga, ridha bi rizqillah (rezeki Allah)  berarti menerima dan merasa cukup (qana’ah) terhadap rezeki yang dianugerahkan kepadanya, tidak rakus dan tidak serakah,  meskipun sedikit dan belum mencukupi kebutuhannya.

Dengan demikian, menggapai ridha Allah itu merupakan keharusan bagi setiap Muslim, karena Allah menjadikan ridha itu sebagai syiar kehidupan akhirat.  

Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri, merasa senang (ridha) karena usahanya (sendiri), (mereka) dalam surga yang tinggi.. (QS. al-Ghasyiyah/88: 8-10). Allah selalu memanggil hamba-Nya yang berhati ridha. “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr/89: 27-28)

Selain itu, Allah menjadikan ridha itu sebagai salah satu syarat terwujudnya rukun iman. Seseorang tidak disebut beriman manakala tidak ridha terhadap segala ketentuan Allah.
Ridha juga dapat mengantarkan Mukmin menjadi mukhlis, tulus ikhlas karena Allah sehingga amalan-amalannya dapat diterima oleh-Nya. 

Ridha juga dapat menjadi obat hati yang dapat menangkal segala penyakit hati, sekaligus dapat membuat hati lapang dan merasa qana’ahterhadap segala pemberian Allah. 

Ridha merupakan salah satu faktor yang menyebabkan hidup Muslim menjadi tenang, damai, tenteram, tidak diliputi keresahan dan kegalauan. Ridha merupakan salah satu jalan yang mengantarkan kepada pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah.

Dengan ridha, hamba dapat menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, menjauhkan diri dari perbuatan tercela dan sia-sia, karena standar ridha kepada Allah itu menuntut hamba untuk selalu taat dan bertaqwa kepada-Nya. 

Menggapai ridha Allah senantiasa dilakukan dengan memperoleh ridha kedua orang tua dalam segala hal. Rasulullah Saw bersabda: “Ridha Allah itu tergantung pada ridha kedua orang tua; dan kemurkaan Allah itu juga tergantung pada kemurkaan keduanya.” (HR. Muslim)

Untuk lebih memantapkan usaha kita dalam menggapai ridha-Nya, ada baiknya kita selalu berdoa: "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.“ (QS. an-Naml/27: 19)

Sahabat Alquran

Membaca Alquran (ilustrasi)

Oleh: Muhammad Shobri Azhari

Keberadaan mushaf Alquran sangat vital bagi seorang Muslim. Mushaf itu bisa menjadi perisai dan wirid hariannya. Apalagi hari ini mushaf dengan berbagai bentuk cetakannya sangat mudah ditemui. Dari ukuran besar sampai ukuran saku.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak memilikinya. Sehingga ke mana pun seorang Muslim pergi, mushaf Alquran seharusnya selalu ada  dalam koper, tas, bahkan dalam sakunya. Secara terus-menerus berdekatan dengan Alquran membuat Muslim selalu ingat Allah SWT.

Selain itu, mushaf Alquran itu bisa membantunya mengisi waktu-waktu senggangnya untuk membaca, menghafal, dan mentadabburinya. Sangatlah indah melihat seseorang yang asyik membuka mushaf Alquran ketika tangannya yang satu bergelantungan di dalam bis.

Sangatlah menenteramkan mendapati seseorang menunggu kendaraan sambil mulutnya komat-kamit membaca Alquran. Lebih manis lagi, bila seorang sopir taksi atau angkot memutar murotal Alquran untuk diperdengarkan kepada penumpangnya.

Berinteraksi dengan Alquran dalam perjalanan merupakan sunah Nabi Muhammad SAW yang agung. Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abdullah bin Mugaffal menyatakan pada Fathu Makkah, dia melihat Rasulullah membaca surat Al-Fath di atas kendaraannya.

Dalam riwayat lain dikatakan, “Sementara kendaraannya berjalan. Siapa yang ingin sukses di dunia dan mendapatkan keberuntungan di akhirat, sebisa mungkin dia harus membaca firman Tuhannya.''
Ibnu Hibban dan lain-lain meriwayatkan, Rasul bersabda,’’Dikatakan kepada sahabat Alquran, pada hari kiamat (dalam riwayat Ibnu Majah: ketika dia masuk surga) ‘Bacalah dan naiklah. Bacalah sebagaimana kamu membacanya di dunia karena tempatmu ada pada ayat terakhir yang dahulu kamu baca.”

Dalam riwayat Hakim disebutkan, Rasulullah bersabda, “Sahabat Alquran datang pada hari kiamat, lalu Alquran berkata ’Ya Tuhanku, berilah dia perhiasan. Lalu dia diberi mahkota kemuliaan. Kemudian Alquran berkata, ‘Ya Tuhanku, ridhailah dia. Lalu dia pun diridhai. Dan dikatakan kepadanya, ‘Bacalah dan naiklah.’ Dan dia akan bertambah satu kebaikan untuk tiap-tiap ayat.’’

Sahabat Alquran adalah orang yang senantiasa membaca dan mengamalkan isi kitab suci itu. Dalam sebuah atsar dikatakan, jumlah tingkatan di dalam surga sesuai jumlah ayat Alquran yaitu sekitar 6.000 lebih.

Jarak antara satu tingkat dengan tingkat lainnya setara dengan jarak antara langit dan bumi atau setara dengan jarak tempuh selama 70 tahun atau 500 tahun.

Perbedaan antara 70 tahun dan 500 tahun itu bisa dikompromikan yaitu bila yang pertama dilakukan dengan perjalanan cepat, sedang yang kedua dilakukan dengan perjalanan lambat.

Siapa saja yang bisa mengamalkan Alquran itu secara keseluruhan dan mengamalkannnya, dia akan menempati tingkatan tertinggi di surga. Sedangkan orang yang membaca satu juz  Alquran maka kenaikan tingkatannya sesuai dengan kadar itu.

Mengingat mushaf Alquran itu sangat mudah didapatkan, alasan untuk tidak berinteraksi dengannnya tertolak. Dengan mushaf itu, siapapun bisa mencapai derajat tertinggi di surga. Asalkan,  dia mau mengisi waktu luangnya dengan taqarrub kepada Allah.

Jujur Itu Hebat





Oleh: Didi Junaedi

‘’Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan jalan menuju surga.’’ (HR Bukhari). Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. Demikian sebuah ungkapan bijak menuturkan.

Ya, kejujuran adalah sebuah sikap yang menunjukkan jati diri seseorang yang sebenarnya. Seseorang yang senantiasa bersikap jujur baik dalam ucapan maupun tindakan, meskipun pahit dan berisiko, bisa dipastikan dia memiliki integritas moral yang baik.

Islam sangat menjunjung tinggi kejujuran. Dalam Islam, jujur menjadi salah satu sifat mutlak seorang Nabi atau Rasul.

Orang-orang yang berlaku jujur, dalam Alquran disandingkan dengan para Nabi, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh.

Sebaliknya, kebohongan adalah awal kehancuran. Seseorang yang sudah biasa berbohong, baik dalam ucapan maupun tindakan, pada hakikatnya sedang menjerumuskan dirinya dalam kehinaan. Dia sedang menggali kuburnya sendiri.

Karena kebohongan yang dia lakukan lambat laun pasti akan terbongkar. Ibarat kata, sepandai apa pun seseorang menyembunyikan bangkai, akhirnya akan tericium juga. Kalau kita lihat dan amati kondisi saat ini, tampaknya kejujuran sudah menjadi barang langka.

Demi menjaga citra diri di hadapan publik dan dengan dalih gengsi, seringkali banyak orang tak jujur kepada dirinya sendiri apalagi kepada orang lain. Mereka lebih senang memakai topeng, daripada menunjukkan wajah aslinya.

Padahal, semakin lama topeng-topeng tersebut mereka kenakan, semakin jauh mereka dari jati diri mereka. Hakikatnya, semakin menyiksa diri mereka sendiri karena harus hidup dalam kepura-puraan.

Orang-orang yang ingin dianggap sebagai orang kaya, misalnya, akan bersikap dan bertindak seolah-olah orang kaya. Semakin dia memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang kaya, semakin tersiksa pikiran dan jiwanya.

Karena dia harus berpikir keras untuk dapat memenuhi tuntutan seolah-olah menjadi orang kaya. Para pedagang, yang hanya menjalankan usaha atau bisnisnya dengan tujuan komersial, akan sangat mudah berlaku tidak jujur alias berbohong.

Tidak jarang kita jumpai, mereka berlaku tidak jujur dalam menjalankan roda bisnisnya. Dalam perkataan, mereka bahkan berani bersumpah atas nama Allah untuk meyakinkan pembeli agar tertarik untuk membali barang dagangannya.

Dalam tindakan, ada pedagang yang mengurangi timbangannya dengan beragam cara, dengan tujuan mendapat keuntungan lebih banyak dari kondisi timbangan normal. Para pejabat publik berlaku bohong untuk memenuhi pundi-pundi kekeyaannya.

Para intelektual, demi memenuhi persyaratan angka kredit untuk kenaikan pangkatnya, tidak jarang melakukan perilaku tak terpuji. Mereka melakukan plagiarisme, membuat data fiktif, serta tindak kecurangan lainnya.

Karena itu, berlaku jujurlah baik dalam ucapan dan tindakan. Betapapun pahitnya, yakinlah kejujuran akan lebih dihargai dan mendapat tempat di hati orang lain daripada kebohongan.
Diberdayakan oleh Blogger.